1. Moh.Sulhan zaen Alamat Bondowoso
2. Kadi Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
3. Irhamullah Alamat Tana mira Artodung Galis Pamekasan
4. Hasan Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
5. Moh.Surah Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
6. Khoiril Anwar Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
7. Abd.Mokib Alamat Dung Daja Pragaan Laok Pragaan Sumenep
8. Sittiyah Alamat Drusah Prenduan Pragaan Sumenep
9. Juharah Alamat Batujaran Pragaan Daya Pragaan Sumenep
10.Mudahri Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
11.Samsulla Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
12.Rito Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
13.Holyadi Alamat Jaddung Pragaan Sumenep
14.Asy'Adi Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
15.Abd.Wahed Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
16.Mulagi Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
17.Saruji Alamat Malakah Jaddung Pragaan Sumenep
18.Sunarji Alamat Sumur Dua Klaseman Ganding Probolinggo
19.Zainullah Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
20.Kholik Alamat Dung daja pragaan laok pragaan sumenep
21.M.Sadik Alamat Bulu jaddung pragaan sumenep
22.Dahruji Alamat Bulu jaddung pragaan dumenep
23.Sunarto Alamat Dung daja pragaan laok pragaan sumenep
24.Sanima Alamat Dsn kebbun polagan galis pamekkasan
25.Maspur Alamat Dsn Malakah jaddung pragaan sumenep
26.Sukri Alamat Bulu pragaan daja pragaan sumenep
27.Sanimah Alamat Batujaran Pragaan Daya Pragaan Sumenep
28.Subaida Alamat Maronggi daya Pragaan Laok Pragaan Sumenep
29.Khosnan Alamat Batujaran Pragaan Daya Pragaan Sumenep
30.Sumrani Alamat Palalangan Karduluk Pragaan Sumenep
31.Moh.Ali Alamat Batujaran Pragaan Daya Pragaan Sumenep
32.Moh.Arsam Alamat Malakah Jaddung Pragaan Sumenep
33.Haris Alamat Ponjun Jaddung Pragaan Sumenep
34.Abd.Yazid Alamat Jaddung pragaan sumenep
35.Sahid Alamat Malakah Jaddung Pragaan Sumenep
36.Sanimo Alamat Jaddung Pragaan Sumenep
37.Artohan Alamat Jaddung Pragaan Sumenep
38.Ach.Fa'is Alamat Jaddung Pragaan Sumenep
39.Moh.Sahe Alamat Dsn Bulu Desa Jaddung Kec.Pragaan Kab.Sumenep
40.Junaidi Alamat Dsn Galis Desa Jaddung Kec.Pragaan Kab.Sumenep
41 Hasnan Alamat Dsn Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
42 Sudah Alamat Dusun Dung Daja Pragaan Laok Pragaan Sumenep
43 Abu Siri Alamat Dsn Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
44 Moh.Shirath Alamat Dsn Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
45 Moh.Siri Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
46 Muhammad Syafi'e Alamat Malakah Jaddung Pragaan Sumenep
47 Marsuwi Alamat Jaddung Pragaan Sumenep
48 Subaidi Alamat Ponjun Jaddung Pragaan Sumenep
49 Moh Sahlan Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
50 Abd.Wakid Alamat Pragaan Laok Pragaan Sumenep
51 Dusshamad Alamat Bulu Jaddung Pragaan Sumenep
52 Sukarni Alamat Pragaan Laok Pragaan Sumenep
53 Mas udi Alamat Pragaan Laok Pragaan Sumenep
54.Moh.Sajuri Alamat Malakah Jaddung Pragaan Sumenep
55.Subairi Alamat Aeng soka Pragaan Laok Pragaan Sumenep
56.mujakah Alamat Dung Daja Pragaan Laok Pragaan Sumenep
57.Gazali Alamat Dung Daja Pragaan Laok Pragaan Sumenep
58.Hamdiyah Alamat Dung Daja Pragaan Laok Pragaan Sumenep
59.Saiful Anwar Alamat Gangpao Kec.Camplong Kab.Sampang
60.Moh.Ramli Alamat Galis Jaddung Pragaan Sumenep
61.Saheri Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
62.Abd.Salam Alamat Pragaan Laok Pragaan Sumenep
63.Samhadi Alamat Belluk Tenngah Belluk Raja Ambunten Kab.Sumenep
64.Saheri Alamat Bulu Jaddung Pragaan Kab.Sumenep
65.Bikaie Alamat Jaddung Pragaan Sumenep
66.Moh.Syafi' Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
67.Abd.Halim Alamat Jaddung Pragaan Sumenep
68.Juhairiyah Alamat Belluk Rajah Ambunten Sumenep
69.Hariyanto Alamat Malakah Jaddung Pragaan Sumenep
70.Achmad Alamat Pragaan Laok Pragaan Sumenep
71.Nurul Amin Alamat Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
72.Hasnan Bulu Pragaan Daya Pragaan Sumenep
73.Fathurrahman Alamat Dsn Galis Desa Jaddung Pragaan Sumenep
74.Abd.Razak Alamat Maronggi Daja Pragaan Laok Pragaan Sumenep
75.Achmad Alamat Dsn Blumbang Pragaan Daya Pragaan Sumenep
jika penarik sumbangan namanya tidak sesuai dengan yang tertera di atas berarti penipuan,mohon di berikan sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku,dan mohon hubungi kami di No.HP.085232087444/087750211117 terimakasih
YAYASAN NURUL KAROMAH ( YASNUKA )
Rabu, 31 Desember 2014
Senin, 01 Desember 2014
ARTI TAQWA MENURUT SYARA' DAN MACAMNYA
Pengertian dan makna takwa yaitu berasal darikata "Takwa" adalah mengambil tindakan penjagaan dan juga memelihara diri dari sesuatu yang mengganggu dan juga keburukan.Pengertian takwa menurut syara' "Takwa" itu berarti menjaga dan memelihara diri dari siksa dan murka Allah dengan jalan melaksanakan perintah-perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-larangan-Nya, menjauhi semua kemaksiatan dan taat kepada Allah SWT.
Sebagaimana dengan firman Allah berkenaan dengan takwa tersebut di atas yaitu : Artinya "Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa".
Rasulullah saw. pernah ditanya oleh seseorang : "Wahai Rasulullah saw. siapakah keluarga Muhammad itu?.
Rasulullah saw, menjawabnya : "Orang yang bertakwa kepada Allah SWT. dan takwa itu merupakan suatu kumpulan perbuatan baik, sedangkan esensinya adalah selalu taat kepada Allah SWT. supaya sadar dan terhindar dari siksa-Nya.
Hal semacam itu supaya ditaati bukan untuk diingkari, agar diingat tidak untuk dilupakan, serta supaya disyukuri bukan untuk dikufuri".
Takwa itu adalah membentengi diri dari siksa Allah SWT. dengan jalan taat kepada-Nya, (menurut pendapatdari para ahli Tashawwuf), sedangkan menurut pendapat dari Fuqaha (ahli fiqih) Takwa itu berarti bahwa menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat melibatkan diri kepada perbuatan dosa.
Adapun pendapat dari Abdullah Ibnu Abbas ra. menerangkan bahwa orang yang bertakwa itu ialah :
- Orang yang selalu berhati-hati dalam ucapan dan perbuatannya agar tidak mendapatkan suatu murka dan siksa Allah juga meninggalkan dorongan hawa nafsu.
- Orang yang selalu mengharapkan suatu rahmat dari Allah dengan jalan meyakini dan juga melaksanakan semua ajaran yang telah diturunkan Allah.
Takwa itu merupakan satu modal dari persiapan sedangkan sabar itu adalah merupakan satu dari amal perbuatan baik, dan tidak ada satupun argumentasi yang benar kecuali Rasulullah saw, sebab itu tidak ada seorang pun yang dapat menolong kecuali Allah SWT. (menurut pendapat dari Sahal bin Abdullah).
Agar supaya manusia itu bertakwa maka akhirat diciptakan sedangkan supaya manusia itu menerima cobaan maka diciptakan dunia, itulah pendapat dari Al-Kattani. Seseorang dapatlah dikatakan sempurna takwanya jika orang tersebut dapat menjaga diri dari segala perbuatan dosa meskipun seberat biji sawi atau sekecil atom sekalipun, dan meninggalkan sesuatu yang tidak halal sebab takut akan tergelincir kepada hal-hal yang dimurkai allah dan dosa, maka dengan demikian akan terbentuk suatu benteng pengingat kokoh sekali di antara dirinya dengan sesuatu yang berakibat dosa dan perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT., itulahpengertian takwa menurut pendapat dari Abu Darda.
Menurut pendapat Musa bin A'yun menerangkan bahwa bertakwa berarti membersihkan diri dari bermacam-macam subhat, sebab takut akan jatuh ke dalam hal yang sama sehingga dari beberapa pendapat di atas dapat diambil suatu kesimpulan mengenai ciri-ciri dari orang yang bertakwa antara lain adalah : kecuali tuntunan Allah, maka segala sesuatu haruslah ditinggalkan. Segala sesuatu yang dapat menjauhkan diri dariAllah SWT., maka haruslah ditinggalkan.
Menentang hawa nafsu serta meninggalkan segala hasrat jiwa.
Melaksanakan serta memelihara tata cara kehidupan menurut syariat Islam di dalam segala ucapan juga perbuatan haruslah mengikuti dan mencontoh tuntunan dari Rasulullah saw.
Ada beberapa arti mengenai kata "Takwa" yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an, di antaranya adalah sebagai berikut :
Sebagaimana di dalam firman Allah SWT. arti takwa mempunyai arti "Taubat", yakni di dalam surat Al Hujarah ayat 41 artinya adalah :
"Dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa". Takwa mempunyai makna "Ketaatan dan ibadah", sesuai dengan firman Allah SWT. yang artinya adalah sebagai berikut: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". (QS. 3 : 102).
Takwa berarti "Bersih hati dari dosa", firman Allah SWT.: "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah mendapatkan kemenangan". (QS. An-Nur : 52).
Dari ketiga dalil tersebut di atas maka yang dimaksudkan oleh tokoh-tokoh Shufi adalah yang terakhir, sehingga mereka mengambil sebuah kesimpulan bahwa Takwa itu adalah terpeliharanya hati dari berbagai dosa, yang memungkinkan akan terjadi karena adanya keinginan yang kuat untuk meninggalkannya, maka dengan demikian manusia akan terpelihara dari segala kejahatan.
Kecuali hanya kepada Allah SWT., maka kepada segala apapun, seorang hamba tidak akan takut, itulah yang dimaksud dengan takwa menurut Nashr Abadzi. Di samping itu juga Nashr menerangkan satu hal lagi yaitu : "Barangsiapa yang selalu bertakwa, maka ia akan merasa keberatan sekali untuk meninggalkan akhirat" sebagaimana firman Allah sebagai berikut:
Artinya : "Desa akhirat itu lebih baik bagi orang-orang bertakwa, apakah kalian semua tidak berpikir". (QS. Al-An'am: 32).
"Barangsiapa yang selalu menginginkan agar takwanya benar, maka dia harus meninggalkan semua perbuatan dosa". (Menurut pendapat Sahal).
Allah akan memudahkan hatinya untuk berpaling dari kemewahan dunia, barangsiapa yang mampu untuk merealisasikan takwa, menurut sebagian dari para Ulama'.
Takwa menurut Abu Bakar Muhammad Ar-Rudzabari adalah meninggalkan segala sesuatu yang dapat menjauhkan! diri dari Allah SWT., sedangkan menurut dari Dzun Nun yang dimaksud dengan takwa ialah: orang yang tidak mengotori jiwa secara lahir dengan suatu hal-hal yang bertentangan dan tidak mengotori jiwa batin dengan interaksi sosial di dalam kondisi demikian, seseorang itu akan selalu kontak dengan Allah SWT. dan dapat berkomunikasi dengan Allah.
Takwa itu terbagi menjadi dua bagian, menurut pendapat ini Ilmu Atha' yakni : Takwa lahir adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Takwa lahir batin adalah niat dan ikhlas. sehingga di dalam hal seperti ini Dzun Nun Al-Misri mengedapankan pendapatnya dalam bentuk syair ada kehidupan yang sejati kecuali dengan kekuatan hati mereka yang selalu merindukan takwa dan menyukai dzikir ketenangan telah merasuk ke dalam jiwa yakin dan baik sebagaimana bayi yang masih menetek lelah merasuk ke dalam pangkuan.
Bertakwa itu dapat dijadikan standar apabila telah memenuhi dalam tiga hal, menurut pendapat seorang laki-laki, antara lain: Niat yang baik dalam hal yang tidak mungkin diperolehnya, Ridha yang baik dalam hati yang telah diperoleh, Sabar dalam hal yang "baik dalam hal yang telah lewat. .
Menurut satu pendapat yang lain bahwa takwa itu dapat dibagi menjadi beberapa bentuk ialah :
- Takwa orang awam karena menghindarkan diri dari syirik.
- Takwa orang yang istimewa karena menghindarkan diri dari perilaku maksiat.
- Takwa para wali karena menghindarkan diri dari perbuatan jelek.
- Takwa para Nabi karena menghubungkan diri dengan berbagai aktivitas yang di dalamnya terkandung takwa.
Telah dituturkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. bahwa sebaik-baik orang di dunia ini adalah orang yang dermawan dan juga sebaik-baik orang di akhirat nanti adalah orang yang takwa.
Adapun dalil-dalil yang menerangkan dan juga memperjelas mengenai Takwa itu adalah antara lain berdasarkan pada firman-firman Allah SWT. dan juga hadits-hadits Nabi. .
Terdapat di dalam surat Ali-Imran ayat 102, artinya: "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah SWT. dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". .
Di dalam surat Al-A'raf ayat 35, artinya adalah : "Barang- siapa yang bertakwa dan berlaku baik, tidak akan ada rasa khawatir pada diri mereka dan mereka tidak akan berduka cita". .
Terdapat di dalam surat Al-Baqarah ayat 103, artinya: "Sekiranya mereka beriman dan bertakwa, tentu akan mendapatkan pahala yang lebih baik di sisi Allah, sekiranya mereka mengetahui". .
Di dalam surat An-Nahl ayat 128, yang artinya adalah : "Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang takwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan". .
Terdapat pada surat Al-Maidah ayat 96, artinya "Takwalah kamu kepada Allah SWT. yang kepada-Nya nanti kamu akan dikumpulkan". .
Surat Al-Ahzab, ayat 70 - 71, artinya adalah : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah menghendaki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.
Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul- Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar".
Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, adalah: "Aku berpesan kepadamu dengan takwa kepada Allah dalam segala urusanmu baik yang tersembunyi ataupun yang terang-terangan".
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad juga, artinya : "Aku berpesan kepadamu untuk takwa kepada Allah, karena takwa itu pokok pangkal segala sesuatu". Hadits riwayat Tirmidzi, artinya adalah : "Takwalah kepada Allah di dalam segala sesuatu yang kamu ketahui",
Di dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Muslim, yakni artinya adalah : "Ya Allah!. Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu bimbingan, takwa, perlindungan, dari perbuatan haram, dan kecukupan". hadits yang telah diriwayatkan oleh Thabrani, artinya : "Wajib atas kamu takwa kepada Allah, sesungguhnya takwa itu mengumpulkan setiap kebaikan dan wajib atasmu berjihad di jalan Allah, karena sesungguhnya jihad ke jalan Allah kependetaan dalam Islam. Wajib atas kamu ingat kepada Allah dan membaca kitab-Nya, maka sesungguhnya Dia itu cahaya bagimu di bumi dan ingatan untuk kamu di langit. Dan sembunyikanlah lidahmu kecuali dalam kebaikan, karena sesungguhnya dengan demikian itulah kamu mengalahkan setan". hadits riwayat Ahmad yang artinya adalah sebagai berikut: "Sesungguhnya orang yang paling utama kepada-Ku adalah orang-orang yang takwa, siapa pun mereka, dan di mana pun mereka berada".
Demikianlah dalil-dalil yang menerangkan atau memperjelas sebagai bukti takwa, untuk dijadikan sebagai bahan rujukan agar kita dapat memelihara iman kita kepada Allah, juga agar tetap takwa kepada Allah SWT. karena hanya kepada-Nyalah kita akan kembali juga hanya kepada Allah jualah tempat segala-galanya
ILMU ISTIQOMAH DALAM ALQUR'AN DAN SUNNAH
Yang merupakan suatu kebalikan dari perbuatan atau sifat yang melampaui batas itu adalah Istiqomah. Sedangkan yang dimaksud dengan Istiqomah itu ialah suatu perbuatan yang mengamalkan atau mengikuti pedoman hidup sesuai dengan di Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. dengan sebaik-baiknya selama hidup.
Berdasarkan pada firman Allah SWT. yang artinya adalah. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An'am: 15), .
Al Our'anul Karim dan juga Sunnatur Rasul telah diberikan Allah SWT. kepada manusia sebagai pedoman hidup, dan kedua ua Kitab tersebut adalah telah mencakup pada dua perkara yakni :
- Hubungan antara manusia dengan Allah SWT., yaitu kewajiban manusia di dalam mengabdi kepada-Nya.
- Hubungan antara manusia dengan sesama makhluk, yaitu .sebagai amanat dari Allah untuk menjaganya, maka harus melestarikan alam lingkungan, dan janganlah berbuat ke- misakan di muka bumi ini, baik itu yang berhubungan dengan sesama manusia ataupun yang berhubungan dengan alam sekelilingnya.
- Usaha akan menjadi sirna dan juga perjuangannya .. terhitung gagal, apabila seseorang tidak bisa menjalani istiqomah di dalam ibadahnya. Sebab dengan jalan Istiqomah maka berbagai kebaikan dan koordinasi sistematika ... akan terjadi, Yang mana dengan Istiqomah adalah suatu .... yang dengannya kesempurnaan dan juga kelengkapan ... perkara kebagusan itu akan terwujud.
Allah SWT. telah berfirman :
Artinya : “dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang-benangnya yang sudah dipintal dengan Kuat menjadi tercerai-berai". (QS. An-Nahl : 92).
Orang yang paling lurus dan jujur serta yang paling Istiqomah dalam ummat ini yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq ia perhna ditanya oleh seseorang tentang makna Istiqomah, maka dia menjawab : "Artinya janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu pun", maksud dari Istiqomah itu adalah ..... di dalam Tauhid yang murni.Mengenai definisi dari Istiqomah ini, banyak sekali pendapat- pendapat dari para pakar atau tokoh terkemuka, di antaranya ialah :
Menurut salah satu pendapat mengatakan : "Istiqomah itu adalah berteguh hati pada perintah juga larangan Allah tidak menyimpang bagaikan jalannya rubah". (Menurut pendapat Umar bin Khathab).
"Istiqomah itu ialah amal yang sangat ikhlas hanya karunia Allah SWT.", itulah pendapat dari Utsman bin Affan, sedangkan pendapat dari Ali bin Abu Thalib dan Ibnu Abbas adalah sebagai berikut: "Istiqomah itu adalah melaksanakan kewajiban- kewajiban".
Telah berkata Al-Hasan : "Istiqomah kepada perintah AIIah itu artinya adalah taat kepada Allah dan menjauhi kedurhakm kepada Allah SWT.". Begitu juga telah berkata Mujahid : Istiqomah itu artinya adalah teguh hati di dalam syahadat bahwa tiada Illah selain Allah SWT. hingga sampai berjumpa denngan Allah SWT.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata : Istiqomah artinya adalah teguh hati di dalam mencintai dan juga beribadah kepada-Nya, tidak menoleh dari-Nya ke arah kiri atau kanan".
Mengenai Istiqomah ini disebutkan di dalam Kitab shoheh Muslim, disebutkan dari Tsauban ra. dari Nabi Muhamm saw. telah bersabda :
Artinya : lsliqomahlah kalian, dan sekali-kali kalian tidak bisa membilangnya, ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian Ialah shalat, dan tidak ada yang memelihara wudhu kecuali orang yang mukmin".
Yang dimaksud dengan jalah Allah itu adalah Al-Qur'an juga Al-Hadits, sedangkan yang dimaksud dengan jalan yang lain adalah pedoman hidup yang diambil dari selain Al Qur’an dan Al-Hadits.
Satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan baik selamat di dunia maupun selamat di akhirat nantiadalah Istiqomah itu adalah sudah menjadi pandangan hidup bagi orang-orang Shufi.
Jika mengambil jalan-jalan dari selain jalan Allah, maka kn tersesat hidupnya di dunia dan di akhirat kelak, dan akan mencelakakan manusia, untuk itu mereka sekali-kali tidak akan mengambil jalan-jalan selain jalan Allah SWT., karena jalan ... selain jalan Allah itu adalah jalannya setan yang akan menyesatkan manusiadari jalan kebenaran atau jalan Allah
.... Seseorang itu tidak bisa memperbaiki dan meningkatkan ...satu maqam ke maqam yang lain, serta tidak bisa mem.... perilakunya untuk mengarah kepada kepastian akan dilakukan, barangsiapa yang tidak bisa Istiqomah di dalam .... sifat baiknya.
Yang merupakan syarat utama bagi pemula di dalam memulai perjalanan shufi adalah Istiqomah. Sebab statusnya itu .... termasuk dalam kalkulasi hukum-hukum dasar perjalanan awal seorang shufi.
Supaya untuk tetap beristiqomah dalam mengetrapkan ... etika pengarungan tahapan-tahapan akhir dariseorang shufi, maka di antara tanda-tanda istiqomah bagi seorang shufi pemula itu adalah ketiadaanperubahan pelaksanaan ibadahnya meskipun hanya sekejap saja, sebagaimana yang merupakan suatu keharusan bagi orang yang Ma'rifatull. Adapun yang merupakan suatu keharusan untuk lidah menyalahi tahapan-tahapan perjalanan shufi dari satu maqom ke maqom berikutnya dengan cara pemberhentian atau istirahat adalah merupakan tanda-tanda Istiqomah bagi seorang tokoh shufi yang telah berada di tengah-tengah perjalanan .....
Namun diantara tanda-tanda ketiadaan intervensi .... tutupan (hijab atau pemunculan tabir yang menghalangi kemarifatannya pada Allah) didalam keberlangsungan ma'rifatulloh itu adalah merupakan satutanda pamungkas bagi seorang tokoh shufi .Istiqomah dibagi menjadi tiga tingkatan, pertama adalah penegakan, lalu berdiri dan akhirnya adalah istiqomah (kontinu). Taqwim itu adalah (penegakan) dan ini adalah murni merupakan proses latihan nafsu, Iqomah (berdiri) itu merupaku pendidikan hati, dan terakhir adalah Istiqomah itu merupakan pendekatan akan rahasia-rahasia (pendapat Abu Ali AI Daqaq).
Di dalam hal demikian ini telah berkaitan sekali dengan ayat: "Kemudian mereka beristiqomah", ayat tersebut oleh MM Bakar Ash-Shidiq diartikan sebagai berikut: "Mereka .....syirik".
Namun lain lagi dengan penafsiran Umar ra. Adalah sebagaimana orang yang pergi ke sana ke mari seperti serigala yang berjalan berputar-putar dalam keadaan miring
Pernyataan dari pendapat Abu Bakar itu mengandung suatu makna dalam kejelian guna untuk memperhatikan dasar-dasar tauhid. Sedangkan penafsiran dari pendapat .... itu menyiratkan sebuah makna pelepasan akan tuntutan ..... dan konsisten di dalam menetapi akan syarat .....
Di dalam penyatuan kesendirian hati dengan Allah SWT maka Istiqomahlah kalian, kata Ibnu Atha'. Janganlah menuntut karamah, akan tetapi jadilah pelaku Istiqomah, ... Tuhanmu itu selalu menuntut dirimu untuk tetap di .....sedangkan dirimu selalu bergerak di dalam pencarian .... (menurut pendapat Abu Ali Al Jauzajiyah).
Kecuali orang-orang yang berjiwa besar maka tidak ada .... yang akan kuat di dalam menjalani Istiqomah, sebab .... telah menuntut pengeluaran diri dari apa-apa yang ... dan pemisahan dari legitimasi (pengakuan atau...) dan juga adat..... tegak di hadapan Allah SWT. itu harus didasarkan....kekat kebenaran, oleh karenanya Rasulullah saw. telah
Artinya : Istiqomahlah kalian dan jangan sekali-kali menghitung- hitung (amal kebagusan)mu".
Telah berkata Muhammad Al-Wasithi. "Tanpa Istiqomah ....akan menjadi buruk, sebab Istiqomah adalah merupakan satu sifat akhlak yang paling sempurna".
Nasehat dari Dalf Asy-Syibli bahwa Istiqomah itu adalah.... pada waktu bersamaan dengan pelaksanaannya, ....lelah dikatakan di sini bahwa Istiqomah di dalam kata...adalah meninggalkan perbuatan rasan-rasan (berbisik-bisik membicarakan kejelekan orang lain), dalam perbuatan peniada-... dalam intensivikasi perilaku dengan peniadaan lungguhan, dan juga dalam ahwal dengan peniadaan Hijab.
..... di dalam Istiqomah itu adalah.... penuntutan, hanya ialah para pelaku shufi meminta akan pelurusan sikap..... Al-Haqq dengan didasarkan pada nilai-nilai Tauhid, ke..... menetapi janji-janjinya juga menjaga akan batasan..... hukumnya, yang pernah dikatakan Guru Islam Abu .... Muhammad bin Husin bin Furak.
Perlu untuk diketahui bahwa Istiqomah itu mengharuskan .... keabadian suatu karamah, seperti firman Allah SWT. :
Artinya : ''Dan jika mereka tetap berjalan lurus (istiqomah) di jalan itu (Agama Islam), tentu Kami akan benar-benar memhnl minum kepada mereka air yang segar (rezeqi yang banyak)". (QS. Jin : 16).
Allah SWT. tidak mengatakan kata "SAQAINAAHIJM yang bermakna Kami memberi minum mereka, akan tetapi mengatakan "ASQAINAAHUM" yang bermakna Kami benar- benar memberi mereka minum. Arti ini yang telah mengandung pengertian akan keabadian.
Untuk mengakhiri pembahasan mengenai Istiqomah ini berikut dipetikkan sebuah cerita dari pengalaman Al-Junnid
Al-Junaid pernah bertemu dengan seorang pemuda yatim sedang berada di bawah pohon raksasa di daerah pedalaman, yang mana pemuda ini adalah salah satu dari murid shufi yang sedang menjalani laku batin, dan dia sedang duduk di bawah pohon besar tadi.
Al-Junaid bertanya: "Apa yang sedang membuatmu duduk di sini?". "Mencari sesuatu yang hilang". Jawabnya.
Kemudian Al-Junaid berlalu sambil meninggalkan pemuda tersebut, disaat pulang dari haji, Al-Junaid telah mendapati pemuda tersebut pindah dari tempat di dekat pohon.
"Apa yang membuatmu (pindah dan) duduk di sini?" ,"Saya telah menemukan apa yang saya cari, ternyata .... saya cari ada di tempat ini, oleh karena itu saya pindah ke tempat ini dan menetapinya".
Telah heran Al-Junaid, kemudian bergumam, "Saya ... tahu, manakah yang lebih mulia, apakah tetap Istiqomah ..... kemungkinan sesuatu yang hilang atau tetap pada suatu tempat didalamnya diperoleh apa yang dikehendaki".
SABAR YANG SEBENARNYA , PEMBAGIAN DAN TINGKAT SABAR
Menurut arti bahasa, sabar adalah menahan atau bertahan dan jika dikatakan "Qutila Fulan Shabran" artinya Fulan terbunuh karena hanya bertahan. Jadi sabar di sini adalah bertahan atau menahan diri dari rasa gelisa, cemas dan marah, menahan lidah dari keluh kesah, menahan anggota badan atau tubuh dari kekacauan.
Sabar di sini dapat dibagi menjadi tiga bagian antara lain adalah :
- Sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT..
- Sabar dari kedurhakaan kepada Allah SWT..
- Sabar dalam mendapatkan ujian dariAllah SWT..
Adapun yang berkaitan dengan tindakan yang telah dikehendaki oleh Allah dua macam yang pertama, sedangkan yang ketiga itu adalah tidak berkaitan dengan tindakan yang dikehendaki. Dari Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sabar yang sempurna adalah pada pukulan (saat menghadapi cobaan) yang pertama".
Anas juga berpendapat bahwa sabar itu dibagi menjadi dua bagian yaitu :
- Sabar yang berkaitan dengan usaha hamba. Sabar ini pun dibagi lagi menjadi dua bagian yakni : Sabar terhadap apa yang diperintah oleh Allah. Sabar terhadap apa yang dilarang oleh Allah.
- Sabar yang tidak berkaitan dengan usaha. Sabar ini adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapat kesulitan
"Perjalanan dari dunia menuju ke akhirat adalah mudah dan menyenangkan bagi orang yang beriman, putusnya hubungan makhluk di sisi Allah SWT. adalah berat, perjalanan dari diri sendiri (jiwa) menuju kepada Allah SWT. adalah sangat berat dan sabar kepada Allah tentu akan lebih berat lagi (menurut pendapat dari Junaid), sedangkan mengenai hal ini dia pernah ditanya lalu dijawabnya : "Menelan kepahitan tanpa bermasam muka".
Sedangkan menurut Ali bin Abu Thalib, sabar itu merupakan bagian dari iman sebagaimana kepala merupakan bagian dari tubuh.
Menurut pendapat Dzun Nun Al-Misri : "Sabar itu ialah menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan, dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran di medan penghidupan".
Sabar itu adalah tertimpa cobaan dengan tetap berprilaku yang baik (menurut pendapat Ibnu Atha'). Akan tetapi menurut satu pendapat bahwa yang dimaksud dengan sabar itu ialah orang yang mengembalikan pada diri sendiri terhadap sesuatu yang telah dibencinya ketika sedang menghadapi serangan.
Adapun yang dimaksud dengan sabar itu menurut sebagian Ulama' adalah tertimpa cobaan dengan tetap bersikap baik dalam pergaulan sebagaimana seperti dalam keadaan sehat (selamat), dan dia menambahkan bahwa sebaik-baik balasan akan melebihinya. Sebagaimana firman Allah SWT. di dalam surat An-Nahl ayat 96 yang artinya :
"Kami balas orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan".
Namun lain lagi dengan pendapat Amr bin Utsman mengenai sabar, yakni tetap bersama dengan Allah dan menerima cobaan dari Allah dengan hati yang lapang dada dan senang. Adapun menurut Ibrahim Al-Khawwas, yang dimaksud dengan sabar itu ialah konsisten terhadap hukum-hukum Al- Qur'an dan juga As-Sunnah.
Maksud dari firman Allah SWT. yang berbunyi :
Artinya : "Sabarlah, menyabarkan dirilah, dan berjagalah kamu sekalian". (QS. Ali hnran : 200).
Maksudnya adalah sabar tanpa menyabarkan diri dan menyabarkan diri tanpa menjaga diri. Dari sini maka telah timbul bermacam-macam pendapat mengenai ayat tersebut di atas, antara lain adalah :
Menurut satu pendapat, bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah untuk taat kepada Allah, maka sabarlah diri kalian, untuk menerima cobaan dari-Nya juga bersabarlah diri kalian, serta dengan tabir rahasiahati kalian untuk rindu kepada Allah SWT. itu juga bersabarlah kalian.
Akan tetapi menurut sebagian dari Ulama' yang dimaksud ""dengan ayat tersebut adalah karena Allah SWT. kita harus bersabar, dengan Allah juga kita harus bersabar, apalagi bersama dengan Allah SWT. juga kita harus bersabar.
Telah disebutkan di dalam ungkapan yang lain. Allah SWT. akan mematikan kamu dalam keadaan mati Sahid, apabila kamu telah menelan semua akan kesabaran dengan hati senang dan juga lapang dada, dan jika Allah SWT. menghidupkanm'u maka kamu akan dihidupkan dalam keadaan yang sangat mulia.
Sebagian dari Ulama' mengungkapkan pendapatnya mengenai sabar ini, yaitu sabar karena Allah itu adalah kelelahan, sabar dengan Allah itu adalah ketetapan, sabar di hadapan Allah itu adalah cobaan, sabar bersama Allah itu adalah pemenuhan, sedangkan sabar menghindar dari Allah itu adalah suatu kehanyutan.
Dalam hal ini digambarkan oleh Ulama' di dalam bentuk syair yang berbunyi :
Sabar menghindarkan diri dari-Mu akibatnya tercela sedang di dalam segala hal akibatnya terpuji bagaimana sabar dari orang yang tinggal di sampingku dengan menempati kanan dari yang kiri. Apabila opang yang bersenda gurau dengan segala sesuatu maka saya telah melihat kecintaan yang bersenda gurau dengan orang lain.
Tanda dari suatu keberhasilan adalah sabar mencari, se- (Iringkan tanda dari kebahagiaan adalah sabar di dalam menerima ujian, menurut dari sebagian yang lain.
Di sini perlu sekali untuk diketahui bahwa sabar itu terbagi menjadi dua bagian yakni kesabaran orang yang beribadah dan kesabaran orang yang cinta, akan tetapi sebaik-baik sabar orang yang beribadah itu adalah terjaga dan sebaik-baik orang yang cinta itu adalah tertinggal.
Ibnu Taimiyah pernah berkata di dalam hal sabar: "Sabar di dalam melaksanakan ketaatan itu lebih baik daripada sabar menjauhi hal-hal yang haram". Sebab kemaslahatan di dalam melakukan suatu ketaatan itu adalah lebih disukai oleh Allah SWT. daripada kemaslahatan meninggalkan kedurhakaan., dan keburukan tidak taat itu lebih dibenci oleh Allah SWT. daripada keburukan adanya kedurhakaan".
Sabar itu jenisnya ada tiga macam :
Sabar karena pertolongan Allah.
Artinya adalah mengetahui bahwa yang memberikan kesabaran itu adalah berkat pertolongan dari Allah SWT., karena hanya Allah jualah yang memberikan kesabaran tersebut, sesuai dengan firman-Nya yang artinya :
"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah". (QS. An-Nahl : 127).
Sabar karena Allah.
Artinya adalah cinta kepada Allah SWT. itu adalah pendorong sabar, mengharapkan wajah Allah dan taqarrub kepada Allah SWT., bukan untuk menampakkan suatu kekuatan jiwa dan ketabahan kepada manusia ataupun pada tujuan-tujuan yang lainnya.
Sabar beserta Allah SWT..
Artinya yang berkaitan dengan hukum-hukum Agamii maka setiap perjalanan seorang hamba itu selalu bersamaan dengan kehendak dari Allah SWT, dan selalu sabar di dalam melaksanakan hukum-hukum dan dengan menegakkannya.
Banyak sekali definisi mengenai sabar tersebut, bahkan dari kalangan para Ulama' salaf pun telah banyak mengomentari' nya, akan tetapi yang pasti Allah telah memerintahkannya kesabaran itu dengan baik, pengampunan yang baik serta .... yang baik di dalam kitab Allah SWT..
Ada tiga derajat sabar menurut pengarang Manazilus Sa'iriin, yaitu:
- Sabar di dalam menghindari kedurhakaan, dengan memperhatikan peringatan, tetap teguh di dalam iman mewaspadai hal yang haram. Namun yang lebih baik adalah sabar di dalam menghindari suatu kedurhakaan karena rasa malu.
- Sabar dalam ketaatan, dengan cara menjaga ketaatan secara terus-menerus, memeliharanya dengan suatu keikhlasan serta membaguskannya dengan ilmu.
- Sabar di dalam musibah, dengan cara memperhatikan pahala yang baik dengan menunggu rahmat atau jalan keluar, meremehkan musibah sambil menghitung uluran karunia dan mengingat akan nikmat-nikmat yang telah lampau.
Seorang hamba ketika mendapatkan suatu musibah ...., mengenakan tiga pakaian kesabaran, antara lain tiga kesabaran itu ialah:
Pertama :Memperhatikan suatu pahala yang baik. Seberapa jauh perhatian, pengetahuan serta keyakinannya terhadap pahala ini, maka sejauh itu pula dia akan merasakan ringan dalam memikul beban musibah tersebut, sebab dia telah merasakan akan mendapatkan suatu penggantinya.
Kedua :Menunggu rahmat keluar atau jalan kenikmatannya, menunggu-nunggu kenikmatan jalan keluar darimusibah dapat meringankan beban musibah dan suatu kesulitan yang sedang dihadapinya, apalagi kalau disertai dengan kekuatan harapan dan juga usaha mencari jalan keluarnya.
Ketiga :Meremehkan musibah, yang mana ini dapat dilakukan melalui dua cara yaitu menghitung suatu karunia Allah yang telah dilimpahkan kepadanya serta mengingat-ingat nikmat Allah SWT. yang pernah diterimanya. Yang pertama adalah berkaitan dengan keadaan, sedangkan yang kedua berkaitan dengan masa lampau atau sudah lewat.
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda : "Bahwa kesabaran itu adalah merupakan salah satu wasiat dari Allah SWT. di dalam bumi-nya ini", Maka barangsiapa dapat memeliharanya ia pun akan selamat dan barangsiapa menyia-nyiakannya maka ia pun akan binasa.
Salah satu simpanan di surga itu adalah kesabaran, dan Allah SWT. tidak akan memberikan-Nya kecuali kepada seorang hamba yang pemurah di sisi Allah SWT, itulah pendapat dari Hasan Al-Bashri.
Dan kepada seorang lelaki Umar Ibn Al-Khathab pernah berkata : "Jika engkau bersabar, maka keputusan Allah SWT. akan tetap berlaku dan engkau akan mendapatkan pahala, namun jika engkau berkeluh kesah, sesungguhnya keputusan Allah pun tetap berlaku, akan tetapi engkau akan mendapatkan dosa".
Ali ra. pernah berkata : "Tunggangan yang tidak bisa tergelincir dan pedang yang tidak bisa tumpul adalah kesabaran".
Sedangkan Rasulullah saw. bersabda : "Kesabaran di waktu mengalami suatu musibah itu adalah mendapatkan 900 derajat", dan Rasulullah saw. menambah sabdanya : "Kesabaran sesaat itu lebih baik daripada dunia beserta isinya".
Di dalam hal ini Rasulullah saw. tidak berhenti sampai di ' sini, beliau masih memberikan fatwanya kepada kita sebagai ummatnya dan sebagai hamba Allah SWT., yakni sabda beliau adalah . "Kesabaran itu ada empat macam yaitu: kesabaran di dalam menunaikan fardhu-fardhu, kesabaran di dalam menghadapi musibah, kesabaran di dalam menghadapi gangguan orang-orang dan kesabaran di dalam menghadapi kemiskinan.
Adapun kesabaran di dalam menunaikan fardhu-fardhu itu adalah Taufiq (dari Allah), kesabaran di dalam menghadapi musibah itu akan menimbulkan pahala, kesabaran di dalam menghadapi gangguan orang-orang itu akan menimbulkan kecintaan dan kesabaran di dalam menghadapi suatu kemiskinan itu akan menyebabkan keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala
Langganan:
Komentar (Atom)